Lagu yang ada di album TobaDream 3 ini diusulkan oleh bang Ramona Purba. Bang Ramona mengerti sekali musikku, dari hasil pengamatannya terhadap karya2ku. Waktu merekam guide vocal, aku sama sekali gak ngerti dan tidak menikmati keindahan lagu ini. Percaya gak, aku sempet bilang ke bang Ramona, “Ganti lagu aja ya bang, gak asik lagunya”. Kata bang Ramona, “kalau lagu keren yg kau bagusin, ya pasti gampang lah buat kau. Justru aku mau tau bisa gak Viky Sianipar membuat bagus lagu yg busuk menurutmu”. Hallah, cape de bang.
Namun aku tetap menerima tantangan bang Ramona itu. Maka kupelajari secara mendalam makna lagu tersebut. Kucari perasaan apa yg dirasakan si pencipta lagu waktu menulis lagu itu.
Lagu “Jumpa La Banci” (Jumpa: bertemu, La Banci: tidak bisa) menceritakan tentang seorang pria yang cinta mati sama seorang wanita, tapi wanita ini malah dinikahi oleh abang kandungnya. Jadi wanita itu menjadi akang borunya, yg menurut kebiasaan orang Batak atau karo (yg menurutku tolol), menatap akangboru itu dilarang. Bahkan kalau mau bicara harus lewat perantaraan tembok atau meja. Mereka satu rumah, tapi berjumpa saja tidak bisa.
Lebih baik ditinggal mati dari pada mesti hidup serumah tapi jumpa saja tidak bisa, dan ini berlangsung terus hingga pria tersebut punya ketertarikan dengan wanita lain yang menurutnya itu tidak mungkin. Sungguh kisah cinta yang tragis.
Aku coba merasakan hal itu, mengenaskan. Itulah neraka abadi, penyiksaan tubuh, jiwa dan pikiran. Suatu penyiksaan alam materi, alam pikiran dan alam roh. Tidak ada yg lebih mengerikan dari penderitaan ini. Dengan rasa itulah aku mulai mengaransir lagu ini.
Kesengsaraan Tubuh:
dilantunkan dengan jenis beat yang cepat atau ‘double time’ (padahal lagu ini bertempo lambat). Aku menggunakan snare drum dgn pukulan stick sapu untuk menggambarkan ketidak-pernah-jelasan hubungan cinta ini. Ditambah lagi pukulan gendang karo yg cepat, sehingga tidak pernah bertemu dgn tempo lagu yang lambat.
Kesengsaraan Pikiran:
Keadaan surealis yg tidak pernah jelas. Pikiran tidak perdah dapat melakukan fungsinya. Grand piano di lagu ini mewakili kondisi itu. Seharusnya sebuah grand piano yg gagah mampu melantunkan kord dan notasi yg sangat lebar. Namun di lagu ini grand piano hanya dipakai utuk melantunkan 7 nada sederhana berulang, “mi fa sol fa mi re mi.” Bang Ramona pasti tertawa kalau baca tulisan ini. Dia pernah bilang pada waktu rekaman lagu ini, “grand piano yg gini keren cuma buat mainin nada simple ini? Udah gila kau, vik.”
Kesengsaraan Jiwa:
Jiwa berteriak melalui sayatan sordam Karo. Memberontak melalui progresi kord yang terus berubah dan mengalami klimaksnya di saat interlude dengan melakukan overtone yang tidak layak. Suara backing vocal ibarat malaikat yg ingin membantu tapi juga tidak dapat berbuat apa2.
Nilai moral dari aransemen lagu ini:
Kalau kamu mengira cinta harus memiliki, maka kamu akan berakhir di neraka kekal yang paling dalam yang mana itu semua ciptaanmu sendiri. Cinta itu membebaskan. Dirimu sendiri adalah Cinta yang sejati. Kamu hanya dapat menemukan cinta yang sesungguhnya disaat kamu mencarinya ke dalam dirimu, mencintai dirimu seutuhnya dan mengingat Siapa dan Apa Dirimu Sebenarnya. Karena tidak mungkin kamu dapat mencintai orang lain sebelum kamu dapat mencintai diri sendiri seutuhnya.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Nice, Bang…
Terimakasih banyak udah mau share cerita yang sudah lama dinanti.
May God bless you,
Bujur, Mauliate.
Horas, Mejuah-juah…
salut bwt b’viky…
tetap brusaha….