
Poltak Naibaho (bukan nama sebenarnya) adalah seorang anak SMU di kota Pangururan yang sangat menggemari musik. Dia membeli gitar “kapuk” second dari teman sekelasnya dari hasil tabungannya bertahun-tahun. Dengan sembunyi-sembunyi dia main gitar di kamarnya selagi orang tuanya bekerja di kantor setiap siang. Begitu orang tuanya pulang, disembunyikanlah gitarnya itu di kolong tempat tidurnya.
Suatu hari dikala Potlak sedang memainkan gitar di kamar tidurnya, dia kaget setengah mati ketika pintu kamar terbuka dan sosok ayahnya berdiri di balik daun pintu.
“Apa itu!” teriak ayahnya,
“Gitar baruku, pak, kubeli dari temanku,” jawab Poltak gelagapan,
“Ngapain kau main musik? begitu kau pegang-pegang itu gitar, kau akan keterusan. Nanti kau jadi malas sekolah, bergaul pula kau nanti sama musisi-musisi berandalan itu, rambutmu jadi gondrong, pake narkoba pula kau nanti.” Sang ayah langsung merampas gitar baru Poltak dan menghancurkannya didepan muka Poltak.
Setelahnya, ayahnya kembali berceramah sambil menunjuk-nunjuk muka Poltak dengan jari telunjuknya, “Aku gak mau lagi liat kau main-main musik, sudah kek orang-orang dilapo itu aja kau. Tengoklah mereka itu, mengharapkan jadi musisi tapi apa yang didapatnya? gak berduit, bisanya cuma nyanyi-nyanyi di lapo. Paling-paling nyanyi di pesta Batak. Kau belajar aja rajin-rajin, supaya diterima di fakultas hukum nanti. Jadi pengacara kau bisa lebih kaya dan membanggakan dari pada jadi musisi jalanan.”
Ayahnya keluar kamar dan membanting pintu dengan keras. Poltak hanya bisa terdiam duduk dilantai kamarnya dan memandangi gitar barunya yang sudah hancur berantakan.
——
Di lain tempat, Anak Medan bernama Tagor Sihombing (juga bukan nama sebenarnya) duduk dengan wajah muram di ruang tamu mewah rumahnya , dikelilingi ibu dan kedua kakaknya.
“Kenapa kau tidak kegereja hari minggu kemarin?” Tanya sang ibu,
“Aku manggung mak, ada festival band yang diadakan oleh perusaahan rokok. Band kami juara satu loh,” kata Tagor sambil tersenyum bangga, “aku mendapat penghargaan sebagai penyanyi terbaik lagi. Hebat kan anak mamak ini.”
Ibunya diam tak bersuara. Kakaknya yang bernama Tiurma bertanya, “Bandmu itu memainkan lagu apa?”
“Lagunya Rush yang judulnya Tom Soiyer, kak. Itu sulit loh, tapi nada-nada tingginya aku bisa, ” jawab Tagor,
Tiurma langsung kaget dan memotong, “Apa? itu kan band rock, gila kau ya? kok mau-mauan sih nyanyi lagu-lagu setan gitu? Dikasih suara bagus sama Tuhan, bukannya dipake buat buat nyanyi lagu Rohani, memuji Tuhan. Malah buat nyanyi lagu setan. Malu-maluin keluarga aja.”
Kakaknya yang nomor dua, Lambok, menambahkan, “gawat kau ini dek, bela-belain sampai gak ke gereja cuma buat nyanyi di acara kek gitu. Itulah musik, bikin orang jadi gila. Parah..parah!”
“Lho apanya yang lagu setan, enak aja, itukan bagian dari seni, tauk! Lagian sebagai seorang penyanyi, segala jenis musik, termasuk rock, harus menguasai.” Jawab Tagor tidak mau kalah.
“Hahaha, memangnya kau mau jadi penyanyi profesional? amangoi…”, ibunya tertawa seolah-olah itu tidak mungkin.
“Iya mak. Aku kepingin kali sekolah musik begitu lulus SMU nanti. Aku kan sudah dikasih talenta bernyanyi sama Tuhan, gak ada salahnya kan aku kembangkan?” bela Tagor.
Ibunya terdiam dan mulai memasang mimik serius. Setelah hampir satu menit tak bersuara, sang ibu mulai membuka mulut lagi, “Gini, amangku hasian, kaukan anakku satu-satunya. Keluarga bapakmu, seperti kau tau sendiri, adalah keluarga pendeta. Mendiang bapakmu adalah salah satu pendeta yang sangat di hormati di HKBP. Apa kata orang nanti kalau mereka tahu anak pendeta HKBP jadi penyanyi rock. Dimanalah mau ditaro muka mamak ini.”
“Yah mamak, aku sangat memimpikan bisa jadi penyanyi, mak. Dan aku yakin sekali kalau aku ini bebakat. Selama aku total melakukannya, Tuhan pasti bantu aku jadi berhasil. Bukannya aku gak mau jadi pendeta, mak, tapi kalau kutinggalkan musik ini, jiwaku seakan mati.” kata Tagor memelas,
“Kau rela membiarkan sampai mamakmu mati nanti terus diejek orang dan keluarga kita yang lain? Lagian lebih terhormat dong jadi pendeta dibandingkan penyanyi duniawi. Tengoklah ti tipi-tipi itu, berceraian semua para penyanyi terkenal itu. Nanti kaupun bisa kek gitu, kawin cere kawin cere seenaknya. Dengan jadi pendeta, kau pun tetap bisa nyanyi. Nyanyilah hanya untuk Tuhan. Lagu-lagu rohani kan lebih enak dari lagu-lagu sekuler. Sudah! gak usah kau membantah. Pake ngomongin jiwa yang mati pula, tau apa kau tentang jiwa. Awas ya kalau kau bolos ke gereja lagi!”
Tagor membungkukkan badannya sedikit dan menahan air matanya sambil berkata, “ya, Mak.”
——
Johan Saragih (lagi-lagi bukan nama sebenarnya) adalah putra Siantar yang mahir main keyboard dan sering diminta untuk mengiringi artis-artis Batak ibukota jika datang ke Siantar. Anak bontot dari sembilan bersaudara ini sedang melakukan skripsi tugas akhirnya setelah tujuh tahun kuliah untuk program S1.
Suatu hari masuklah Johan ke kamar ayahnya, seorang staf administrasi di kantor camat. Terlihat ayahnya sedang berbaring di tempat tidur queen-size masih mengenakan pakaian dinasnya.
“Pak!”, sapa Johan ramah,
“Hmm” gumam bapaknya sambil menutup mata,
“Tadi Tulang Patar telepon, dia tanya apakah aku jadi sekolah musik di Jakarta, katanya dia mau daftarin si Patar masuk sekolah musik itu. Dia tanya apakah aku mau diambilin sekalian formulirnya.”, jelas Johan,
Bapaknya langsung buka mata dan duduk disampingnya, “Iyah, brapa kali kubilang sudah, aku tidak mau kau jadi musisi. Gimana pula kau mau bersaing sama musisi Jakarta yang sudah hebat-hebat itu. Kau boleh jago di Siantar ini. Tapi di Jakarta itu kau mana ada apa-apanya dibanding mereka. Udahlah lupakan lah itu. Lagian Bapak udah cape-cape ngumpulin duit 35 juta untuk biaya masuk pegawai negerimu. Udah kurang enak apa lagi kau ini, udah tinggal masuk kerja langsung jadi pegawi negeri. Kek aku dulu setengah mati untuk jadi pegawai negeri.”
“Tapikan terbukti aku bisa cari uang sendiri dari musik”, protes Johan.
“Itulah kau. Dasar naposo.” sindir bapaknya sambil berjalan keluar kamar dan mengidupkan rokok. Johan tidak bergerak dari tempat dia duduk. Bapaknya kembali melanjutkan pembicaraan dari luar kamar dengan nada sedikit keras, ” Pikirkan masa depan dong. Sampai kapan musik itu bisa membiayai hidupmu. Gak bisa kau kaya dari musikmu itu. Kalau jadi pegawai negeri, hidup di hari tuamu sudah aman. Kau bisa jadi orang kaya. Orang Sukses. Kan bangga aku kalau kau sukses, jadi orang kaya.”
Kisah Poltak, Tagor, dan Johan hanya sebagian kecil dari ribuan kejadian serupa yang terjadi di dalam keluarga Batak.
Kisah di atas adalah kejadian nyata puluhan tahun yang lalu dari beberapa orang yang kukenal. Mereka sangat berbakat. Jika saja dulu mereka menekuni bidang musik, aku yakin mereka akan menjadi musisi papan atas Indonesia.
Sekarang Poltak adalah seorang pengacara kaya raya dan memiliki dua orang anak yang kecanduan berat narkoba. Harta kekayaannya habis untuk biaya pengobatan dan rehabilitasi penyembuhan anak-anaknya.
Tagor sempat masuk STT selama empat tahun namun dikeluarkan karena terlibat perkelahian besar dengan salah satu dosen. Dia sempat mempunyai Band yang berhasil masuk ke dapur rekaman namun bandnya bubar begitu saja karena kelakuan Tagor yang dianggap aneh oleh teman-temannya. Tagor mengidap kelainan psikis yang membuatnya mengira dia adalah seorang politisi hebat. Setelah Ibunya mengetahui hal ini, akhirnya Tagor diizinkan main musik, tapi sudah terlambat. Tagor sibuk ngoceh tentang “dunia”nya sendiri dan menjadi sulit bergaul sampai Ibunya meninggal.
Johan mendekam di penjara lima tahun lalu karena kasus korupsi dan menggantung dirinya di dalam sel dua bulan tetelahnya.
Aku bukannya mau menyindir anda yang melarang anak-anak anda main musik dan mengajak untuk mengizinkan anak anda menjadi musisi, karena segala sesuatu itu benar atau salah tergantung dari mana kita melihatnya. Akupun tidak akan berkomentar, namun aku ingin memberikan sedikit quote sebagai berikut:
“Alasan sebenarnya seseorang mengambil jalur akademis dalam hidupnya adalah karena dia tidak memiliki talenta seni dan olah raga.”
“Frekuensi adalah fenomena Ilahi yang paling dahsyat dari semua fenomena alam yang ada. Musik adalah rangkaian frekuensi yang dapat mempengaruhi jiwa seseorang dan juga dapat mempengaruhi segala unsur yang ada si alam semesta ini. Jangan anggap enteng seseorang yang terlahirkan dengan talenta musik. Mereka adalah manusia terpilih untuk menjalankan misi besar.”
“Music creates peace. Peace is Love and Love is God”
Kisah yg sangat Mengharukan…
Sesuatu yg diberikan Tuhan, jgn lah di pendam…namun dikembangkan.
Tidak hanya Musik saja.. tapi banyak hal yg lain yg bisa dikembangkan.
God is good
Horas..!!
sebuah kisah nyata yang terjadi pada masnyarakat batak masa dulu dan masa kini, dimana orang tua harus berperan aktif dalam menentukan masa depan sang anak dari mulai bayi orok sampai bisa menghisap sebatang rokok pun orang tua menjadi otoriter untuk menghendaki akan jadi apa anak tersebut tanpa melihat talenta dan bakat yang di miliki anak tersebut, justru seharusnya orang tua yang sudah memiliki banyak fasilitas menjadi tidak mampu untuk bisa memberikan yang terbaik buat sang anak. membaca sekilas kisah Poltak Naibaho, Johan Saragih, Poltak Sihombing setidaknya memberikan gambaran sekilas kepada saya untuk memberikan yang terbaik kepada anak saya kelak. apapun potensi dan bakat yang akan dimiliki oleh keturunan saya kelak, saya sebagai orang tua harus tetap mendukungnya, dan tidak menjadi otoriter. dan teringat juga guyonan temen saya, kalau gua punya anak, mau dia jadi musisi gua beliin dia gitar fender, kalau dia mau jadi pengusaha tambal ban gua beliin dia kompresor yang paling gede, kalau dia mau jadi perampok gua beliin dia kampak yang lebih gede dari kampak merah, dll. terima kasih bang piky atas cerita yang abang posting, mudah2 han tidak ada lagi halak batak seperti lae2 kita di atas yang kita temui. horas butima.
IMPRESSIVE WRITING VIKY…:) KEEP UP THE GOOD WORK.
Pada masa itu memang paradigma orangtua Batak, menurut aku salah. Sekarang sudah terbalik. Hampir disetiap tempat kursus/les musik sekarang ada anak anak Batak.
Mau gitar, drum, vocal, apalgi piano. Pasti ada
Teman aku guru musik pernah cerita, dia diprotest orang tua murid yang lainnya, bila melihat anak ni halak hita lebih bisa dari teman temannya. Dia jawab, itu sudah talenta untuk mereka, lebih cepat nangkap dan itu tidak dibuat buat, cara ngajarku sama saja dengan murid lainnya.
Semoga anak anak ini tumbuh jadi musisi musisi yang patut dibanggakan dan tidak kawin cerai
aku pernah bilang seperti apa yang poltak bilang ke ibunya. “mak, aku ingin jadi musisi.” aku pernah mencoba, tapi gagal.
walau gitu, obesiku belum mati.
sekarang identitasku adalah jurnalis, bukan musisi. ada untungnya juga, aku masih bisa mainkan romance d’ amor dengan gitarku, meski dalam kesedihan.
gitaris idolaku dulu dan sekarang tetap jimmy page [led zeppelin]. yah, aku dulu sempay bermimpi seperti dia, atau paling tidak seperti ritchie blackmore.
ah, forget it -lah. naluri musikku telah mengajakku lagi ke fantastisnya tune gitar lee ritenoir. huh! untungnya,
kisah yang sangat menyentuh. suspensif.
horas, lae viky!
konsep hamoraon hagabeon hasangapon yg di pengang akka simatua kita yang bikin mereka membenamkan bakat2 terpendam yg di miliki anak2nya… krn dr kacamata meraka musik tidak menjanjikan ke-3 hal tersebut…
nasib seperti Poltak, Tagor, Johan…. banyak di alami oleh generasi batak kelahiran 60-70 an tp banyak jg mereka yg tidak berakhir tragis seperti poltak tagor johan…
jalan nasib dan kerelaan berdamai dgn lingkungan dan keluarga membuat mereka tak berakhir tragis…
aku yg ingin jd menyanyi… samapi skrg ttp merasa bahagia jika bisa bernyanyi di kamar mandi
ito ku yg ingin jd gitaris…. ttp bisa sukses hidupnya dgn menjadikan gitar sarana me-refresh kan dirinya dr beban kerja…
jd jgn salahkan orang tua kita akan nasib yg kita jalani… tp jgn juga contoh apa yg dilakukan mereka jika melihat bakat musik pada anak2 kita….
VIKY:
Bagus kali komentarnya, to. Memang tak ada gunanya menyalahkan orang tua. Semua kembali ke diri kita. Jika dengan masa lalau yang pahit membuat kita mengutuk orang/kejadian itu seumur hidup, ya energi negatif lah yang mampir di diri kita. Itulah yang terjadi sama Poltak, Tagor, dan Johan.
Tetapi jika mereka bertiga mau berbesar hati dan tetap mengsyukuri hidup ini. aku yakin hal mengerikan itu tidak akan terjadi.
So, stop blaming other people.. and JUST be greatful of what we have got. Do NOT question HIM too much.
imatutu ito
Permisi, numpang beropini.
Melarang seorang anak mempelajari musik, musik apapun, berarti mencegahnya tumbuh menjadi manusia. Melarang anak mendalami musik karena menganggap bidang itu tak akan bisa menjadi jalan kehidupan, adalah sikap yang 2 kali keliru.
Pertama, musik terbukti bisa membuat seseorang terkenal, kaya, punya kehormatan, dipuja-puja dan sebagainya. Kedua, belajar musik tak berarti harus hidup sebagai musisi.
Siapapun semestinya bisa menguasai atau mengerti musik, dengan berbagai tingkat kemampuan tentu saja, agar jiwanya bisa lebih peka, agar hatinya tidak kaku membatu, seperti hati para orang tua yang melarang anaknya main musik itu.
Mungkin perlu dilakukan riset lebih jauh, tapi saya yakin, seseorang yang sama sekali tak ada minat dengan musik, umumnya adalah orang yang tak bisa menikmati dan menghargai hidup, gampang tertekan, susah tersenyum, muka petak, dst.
Itulah barangkali sebabnya, kedudukan musik dalam kultur Batak sangat penting, tidak saja dalam kaitan hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga sebagai medium penghubung dengan Yang Mahakuasa.
Amang pargual pargonsi, pasahat ma jolo tonggo tu Mulajadi Nabolon …
Bila Tuhan pun bisa kita “sentuh” dengan musik, konon lagi hati seorang manusia?
Makasih, CMIIW.
VIKY:
Oi, bang Toga… pa kabar..
Muka petak itu seperti apa ya.. hahaha
Setuju! Music equal brain power. Otak kanan dan kiri jadi balance.
Kalau pengalaman saya pribadi, keluarga mendukung untuk bermusik, namun yang kurang mendukung adalah ekonomi. Untuk les musik di kota kami (medan) cukup menguras dompet. Apa mau dikata, cinta2 jadi musisi harus terbenam, namun bukan sama sekali g tersalurkan, hobi musik cukup tersalurkan melalui gereja. Tapi keinginan nantinya juniorku (semoga suka musik) bisa melanjutkan cita2 ayahnya (jadi musisi, seperti viky)
Nunga marganti zaman. Skrg, semua orang tua rela membayar mahal utk bayar kursus musik, vokal bahkan modelling anak2nya. Berlomba2 mengikutsertakan anak pd perlombaan modelling, idol, dll. Supaya anaknya punya gelar “selebritis” tanpa mikir efek ke perkembangan mental si anak. Seolah2 industri hiburan yg paling menjanjikan.
Amangoiii.. amang… sai na adong do
aq dulu pengen bgt bisa jadi penyanyi..dan Puji Tuhan, ortu sbnr nya ngedukung bgt..dan dulu aq bisa dibilang aktif bgt nyanyi..
but, mungkin sekarang blm waktu nya..dan mungkin Tuhan menghendaki aq untuk kuliah yg bener dulu..
so, sekarang aq kebanyakan make suara untuk jadi paduan suara kamar mandi aja..hahahahaha..
selama kuliah ini, aq mang dah jarang bgt nyanyi dan ada kerinduan bwt bisa nyanyi lagi..moga2 aja selesai kuliah nanti, aq bisa aktif nyanyi lagi..
bwt bang viky, salam kenal y..aq salut bgt ama kejeniusan abg dlm bermusik..
Gbu..
Aku jadi ingat saat masih belia dan sangat suka menyanyi.. Kalo ada yang bertanya aku mau jadi apa setelah besar, aku selalu jawab dengan lantang “mau jadi penyanyi…!!!” Tapi opungku bilang “jadi penyanyi bukan cita-cita.” Jadi aku harus tukar cita-citaku.. Sekarang aku jadi penyanyi kamar mandi, because I still love singing. Hehehe.. No regret, karena apapun dalam hidup harus disyukuri.. Dan aku mengerti karena menjadi seniman/penyanyi belum ada di semesta pemikiran Opungku.. Dan dia melarang karena dia menginginkan cucunya memperoleh hidup yang terbaik…
Tapi sebaiknya kita memberikan anak cucu kita untuk menentukan pilihan hidupnya sesuai dengan bakat yang dimiliki, agar mereka bisa bekerja dengan segala kecintaannya..
Pemaksaan kehendak yang dilakukan para orang tua sebenarnya didasari oleh keinginan untuk membentuk anaknya seperti apa yang mereka (orangtua) inginkan, bahkan terkadang pemaksaan ini disertai dengan intimidasi. Tapi yang memprihatinkan adalah mereka justru menjerumuskan anaknya kedalam situasi yang akhirnya mereka sesali di kemudian hari
Sebenarnya music sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari seorang “halak kita”, kalo boleh saya katakan, begitu seorang anak batak lahir ke dunia ini ia otomatis mewarisi gen seni, salah satunya seni music. Tidak heran ketika sedih pun naluri seninya otomatis muncul, liat aja di acara – acara pemakaman, ungkapan kesedihan atau tangisan diucapkan dengan nada2 sehingga terdengar seperti nyanyian, itu yang sering kita sebut mangandungi atau andung-andung.
Jadi para orangtua harus lebih jeli lagi melihat potensi yang ada dalam diri anak – anaknya sejak kecil, sehingga bisa mengarahkan si anak tepat di bidang yang sesuai dengan bakat dan talenta si anak, sehingga di kemudian hari tidak ada lagi poltak – poltak yang lain yang bernasib sama dengan poltak yg diatas. Horas..!!
Tidak bisa dibayangkan hidup tanpa musik.
Saya yakin orang-orang tua zaman sekarang tidak seperti orang-orang tua terdahulu. Anak bukanlah milik orang tua namun mereka adalah milik kehidupan. anak berhak berkembang sesuai dengan talenta dan bakat yang dimilikinya. arahan dan bimbingan orang tua yang lebih diharapkan agar sang anak bisa menemukan jati dirinya dan tumbuh menjadi dirinya sendiri.
apapun yang kita lakoni dalam hidup ini asal dilakukan dengan penuh kerja keras, tekun dan doa, semuanya akan membuahkan hasil yang baik.
Sukses selalu!
Lae Vicky, bisa tidak saya ikutan nyanyiin lagu lae? semuanya lagu2 lae asyik dan penuh arti. Saya juga ingin berkarya seperti lae, Kira2 bisa tidak saya ikut satu album saja di Album lae?
Tolong lae beritahu aku ke alamat ini OK?
boni_crisantus@yahoo.co.id
Terimakasih lae
VIKY:
Kirim aja demo suara lae (mp3) beserta profile dan foto bewarna seluruh badan. Kirim aja ke emailku. Tks
Memang setiap orang lahir dengan talenta masing-masing, dan saya pikir orang yang lahir dengan talenta bermusik adalah spesial.Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah menciptakan seorang Viky Sianipar yang telah menghasilkan karya-karya besar dan menghibur bagi setiap orang yang mendengarnya.Oh ya… saya juga bersyukur anda memiliki orangtua yang selalu mendukung anda sehingga anda mampu membuat lagu batak jadi ‘ lebih baik’
bang vicky aku blh minta partitur2 lagu batak ga??
soalnya kami ada organisasi kebudayaan sumatera utara d kampus mau buat acara, kami butuh lagu yg ada partiturnya utk paduan suara.
kalo ada bs d kirim ke email ku ga??
candra_napits@yahoo.com
mauliate bang
VIKY:
Duh.. aku gak pernah bikin partitur. Dan gak pernah suka partitur…
sebuah cerita yang sangat menyentuh…mungkin masih banyak jg bang si poltak, johan, dan tagor yang lain di luar sana.
tp memang sudah bukan rahasia umum lagi bagi kita orang batak bahwa orang tua kita sangat bangga apabila anaknya bisa jd pengacara, polisi atw TNI, padahal sebagai musisi itu tidak kalah hebatnya dengan profesi2 di atas dan kalau saya bisa mengatakan seorang musisi itu adalah orang yg luar biasa karena dia bisa menghibur orang lain dengan karyanya dan tak pernah merugikan orang lain. jd apapun kiranya pilihan (positif) dari seorang anak hendaknya para orang tua dapat mensupportnya karena itulah mungkin ada lagu ANAKHON HI DO HAMORAON DI AHU..
oh ya bang viky aku da coba untuk daftar di milistnya bang viky tp susah amat yak buat masuk,padahal aku membukanya dari link yang dikirim ke emailku…??
napa tuh bang?
musik adalah warna hidup,
tapi sebagian besar orang batak takut untuk mengeluarkan warnanya,padahal orang bakat mempunyai talenta dalam berseni….
SEMANGAT!!!!!
MM,.. aku lain lagi sinyo adalah orang yang berkemauan keras banyak orang yang mengira saya orang tolol rekaman kesana kemari untuk demo kasi ama bg. viki.mana maulah mereka peduli amamu sinyo…katanya.. kataku lain,..meskipun buapakku musisi yang tak kesampaiian ,,mamakku orang batak yang dari kampung kekota, tak menyetujui aku jadi penyanyi yang slalu (hi-not), tapi apala kata mereka..kami sebagai orang tua gak tau bilang apa… di udah banyak membuat karyanya…rec dengan alat sendiri dll..masuk radio lokal sana sini. tapi aku mau menarik perhatian Bang VIKI S. tolong lah bang ya..aku Fallin’ in love ama musicmu.. akukan da kirim DEMO ku Ama Profileku ke jl. minang kabau…tolonglah bang masukkan aku sebagai penyanyi dalm proyekmu..aku tunggu lo harus bagaimana lagi aku rayu mas… aku yakin aku memiliki spesifikasi yang jauh berbeda dari yang lain, lain dari Once,..afgan,glenn F,,,,…Candil,. bahkan vokalis still heart dan Phill C. pokoknya sinyo itu beda..please ..ya bang..I’m so seriously..aku percaya God’s words apa yang kita minta akan diberi, yang kita cari akan kita dapat…siapa yang berharap pdNya akan terus menghasilkan buah..amin….I’ll be waiting for your call
It’s my Mobile (085270826519)
jadi ingat dua adik saya yang doyan main musik
beruntunglah kedua orang tua saya cukup demokratis menekan perasaan mendengar adik saya gedumbrenangan
sekarang mereka tak lagi memikirkan mimpi jadi superstar seperti ketika remaja dulu
si nomer dua melesat ke belantara kalimantan bekerja disebuah perkebunan
dan si nomer tiga baru lulus kuliah.
setidaknya kesukaan bermusik itu memberikan sesuatu yang indah buat mereka, teman banyak, mengasah feeling, bahkan mencipta sendiri lagu-lagu yang sekarang cuma disimpan dalam laptopnya
setidaknya juga bisa main musik bisa jadi sarang buat ngilangin stress, anyway nggak semua yang suka bermusik harus jadi musisi kan?
Dulu juga punya pengalaman yang mirip.. Hanya saja akhirnya aku kuliah dan sekarang sudah lulus. Tapi gak bunuh diri, he..he..
Waktu dulu aku sering membayangkan untuk mengangkat musik batak dalam versi modern sebagai suatu identitas. Tapi karena tidak jadi berkarir di musik, ya cuma jadi angan – angan.. Gak nyangka ternyata lae Vicky yang akhirnya mewujudkannya.
Btw, dalam diriku sendiri seringkali masih muncul hasrat menggebu – gebu untuk mengeksplorasi kemampuan musikku. Tapi apa daya, situasi dan lingkungan tidak mendukung..
Buat lae Vicky, mungkin bisa mampir kesini : http://okto.silaban.net/2008/10/music-guitar/batak-rocks/
boleh nanya neh bang..?
apa ga ada masalah kita meng-aransemen lagu daerah..?
apa makna yang terkandung dalam musik itu tidak hilang?
Mejuah-juah
VIKY:
Gak ilang tuh..
“Music creates peace. Peace is Love and Love is God”
Benar2 quotes yang keren !!
Kalo semua orang yang mencintai musik dan menciptakan kedamaian, ga kebayang betapa indahnya harmoni dunia ,,,
mungkin seperti udara segar dan lembut di pagi hari
atau
mungkin lebih dari itu rasanya ??
HORAS
http://www.new7wonders.com/nature/en/liveranking/
dukung danau toba yang kita sayangi sebagai salah satu keajaiban dunia…melalui poling di unesco…
jangan lupa ya././.
mengharukan sekali ya………
tapi apakah penyanyi rock tu haram bagi kita?????????
jawab sendiri ya…….
menurut saya itu tergantung persepsi kita masing2…..
dukung terus lagu lagu batak………
bang kalau bisa ciptakan lagu-lagu simalungun baru lah………
thanks ya bang………
tuhan memberkati,
Terlalu sadis caramu…… Among!
sekarang sudah berubah, banyak orang tua yang justru pengen anaknya jadi penyanyi, atau artis, mengikutkan mereka ajang-ajang lomba, di tv-tv. Banyak juga yang rela melakukan banyak hal, keluar uang sampe ngutang-ngutang buat nge bom sms.
aku juga pernah ketipu orang tua seorang anak yang kena tipu, sutradara dan produser palsu yang menjanjikan anaknya main sinetron.
Jadi tidak jelas lagi, yang ingin jadi musisi anaknya atau orangtuanya, apakah si anak suka ??.
lalu kadang anak juga jadi teksploitasi.
mimpi jadi terkenal dan meraup uang dari orang tua anak jadi korban
Setuju Denganmu Bg….
Tuhan Berikan Talenta & Ia Mau Utk Kita boleh Kembangkan bukan utk pribadi tp utk perwujudan karya Tuhan Sendiri yg ada pd diri kita…
So, Kembangkan Ap Yang Tuhan Berikan Dalam Dirimu, hargailah &Banggakanlah…
Horas Halak Hita….
JC Lo U…
horas ma dihita sude,
aku numpang komentar dulu lae.
Kisah yang dituturkan Lae Vikky ini sebenarnya sangat kompleks kalo mencari siapa yang salah dan benar. disatu sisi, umumnya anak itu dibentuk sesuai gambaran orang tua, tujuan hidup anak sering kali sudah disetting oleh mereka. anak harus menjadi apa yang ada dipikiran mereka dan menyampingkan keinginan dan cita-cita anak sendiri. orang tua sering kali mengarahkan, bukan membimbing. dua kata ini sebenarnya beda tipis…
disisi lain anak belum siap dan berada dipersimpangan jalan yang akan dipilihnya. itu sangat membingungkan dan kebanyakan adalah mengalah dan menerima keinginan orang tua dengan berat hati dan menggerutu, memendamnya.
jadi, siapa yang patut dipersalahkan? aku pun binging…tapi porsi peran orang tua lebih besar menurutku. kalo tardidi kan amang pandita biasanya bertanya kesanggupan orang tua mendidik anak di jalan Tuhan. ini lah yang harus lebih kita maknai…..(just an opinion)
mauliate ma…. GBU